5 argumen hidup mu dikonsumsi oleh media sosial

Dalam era 4.0, komunikasi telah berubah menjadi sesuatu yang gampang diperoleh dan menjadi barang murah. Jika dulu kita harus pergi ke tempat misalnya telepon koin diluar ataupun berkiriman surat melalui Kantor Pos dan jauh sebelum itu mungkin berkiriman surat via burung dara seperti yang di film-film vintage. Sekarang hal itu bisa dilakukan ratusan kali lebih cepat hanya dengan kekuatan “sentuhan” teknologi bernama smartphone.

Kita lihat dari menjamurnya platform-platform social media seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan ratusan lainnya yang tidak perlu disebut .Meski ada sisi positif dari femonena ini seperti memudahkan marketing dan membangun bisnis, tetapi akan selalu ada sisi negatif jika Anda tidak bisa mengendalikannya dan kemudian terjatuh ke sisi dark side*anggap aku seperti Master Yoda( Star Wars).

Izinkan saya memberikan argumen untuk menyakinkan Anda sekalian kenapa media sosial itu mengubah perlahan-lahan diri Anda sampai menjadi orang yang berbeda. Jikapun tidak bisa setidaknya Anda butuh yang namanya istirahat sejenak.

1. Anda tidak tau arti fokus sejati

Ketika setiap menit waktunya dihabiskan untuk melihat berbagai curhatan dari beranda orang yang tidak pernah anda sapa dari dunia nyata sebelumnya, Anda kehilangan poin penting dari hidup ini. Apa itu? Fokus, ya fokus merupakan elemen penting untuk tetap produktif dan terkontrol. Tanpa fokus Anda tidak akan bisa berpikir dan mengabaikan priotas penting dalam hidup. Bayangkan jika Anda selalu scrolling beranda tiap 10 menit, apa yang Anda capai dari itu? Sebuah validasi kah? Atau sebagai stimulant dopamine yang bagus tetapi hanya jangka pendek, perlahan-lahan itu akan merusak dan berubah menjadi kecanduan. Ketika menulis pesan saya hanya satu, hargai lawan bicara Anda dengan melihat matanya ketika melakukan obrolan bukan malah ke gawai (gadget)

2.Opini Anda dikendalikan

Saya serius ketika bilang opini Anda dikendalikan, media bukan rahasia umum lagi menjadi tempat propaganda khususnya pengendalian opini publik dengan gaya persuasive terlebih dengan media sosial. Jika anda tidak percaya, saya akan memberikan sebuah hipotesa. Begini, jika kita awalnya diberikan sebuah opini atau pemikiran secara terus menerus dan berulang, apa yang awalnya masih subjektif tersebut bisa kita anggap secara tidak sadar menjadi fakta akibat dari buah tindakan persuasive ke doctrine di alam bawah sadar.

Kita hitung dari kasus cara pandang politik ( buzzer), gaya hidup yang merusak alam ( pakaian hari ini atau OOTD ), pemviralan( sebenarnya lebih tepat menggunakan kata trending) dengan tujuan mencari dukungan ataupun mengubah persepsi orang lain tanpa melihat apa dan bagaimana sebenarnya hal itu bisa terjadi.

3. Memiliki kebiasaan ingin tahu semua hal ( merujuk ke negative )

Istilah ini lebih dikenal dengan FOMO ( Fear off Missing Out) adalah fenomena baru dikalangan pemuda-pemudi yang merasa dirinya kehilangan ‘tempat’ jika tidak mengikuti hal apapun di sosial media. Sering kali kita berpikir agar tetap untuk terhubung dengan orang lain, jika terhubung dengan orang dekat saya masih setuju tapi untuk orang asing? Big no, kita terlalu memikirkan opini orang lain yang bahkan ia sebenarnya tidak peduli pada kita, sehingga sering melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh hati nurani hanya untuk mendapatkan validasi dari orang lain.

Apa yang disebut terhubung sebenarnya tidak benar-benar terhubung, itu hanya menjauhkan orang-orang dekat yang benar-benar peduli pada Anda, jadi berhentilah bertindak seperti orang kasar yang berbicara sambil memegang gawai*serius kenapa aku kembali kesini lagi?. Tindakan ini dapat membawa Anda menjadi pengidap FOMO syndrome karena tidak sehat untuk kesehatan mental Anda.

Ayo kita mulai berandai-andai, jika setiap hari informasi yang tidak relevan dengan kehidupan kita terima terus-menerus itu akan menyebabkan stress ataupun iri , well yah iri. Kenapa saya bilang iri, bayangkan sendiri, rutinitas anda setiap malam terkhusus malam minggu hanyalah rebahan dikamar, sambil bermimpi menjadi pemain e-sport professional padahal hanya stuck di MMR Archon ataupun tier Gold ditambah pengangguran dan jerawatan tidak seperti teman keren Anda saat disekolah maupun kuliah yang setiap hari nongkrong dan selfie bersama kopi mahal dan pasangannya yang cantik ataupun tampan, tidak lama kemudian teman Anda itu diterima ditempat kerja impian. Bagaimana perasaan Anda ? Tidak kah berpikir lebih baik untuk menjaga perasaan pribadi dengan pembatasan konten sosial media apa yang ingin kita lihat saja tanpa menghabiskan waktu scrolling berjam-jam hanya untuk membuat Anda mengasihani diri sendiri. Serius berhentilah melakukan itu.

4. Tidak ada internet terasa hampa

Pernahkah anda merasa saat internet melambat ataupun gangguan yang hanya mungkin hitungan menit maupun jam tapi Anda sudah merasa tidak nyaman? Bayangkan jika ini terjadi sehari, seminggu, ataupun sebulan tanpa itu? Feels like an end of the world mate.

Hal ini terjadi karena Anda sebagai makhluk sosial*maksudku benar-benar sosial interaksi langsung, malah menghabiskan sebagian waktu lebih dari 50% didunia digital bukannya langsung. Itu membuat pola dalam diri kita, menciptakan stimulant dopamine secara singkat di otak yang membuat kesenangan sementara yang akan berubah menjadi penyebab tumbuhnya hormon kortisol ( hormon penyebab stress) karena zona nyaman telah diambil.

Setiap hari setiap saat yang sudah menjadi kebiasaan menatap layar gawai itu, tiba-tiba diambil dari kita ataupun menghilang, apa reaksi kita? Anggapannya sama seperti mengambil permen dari bayi, bedanya adalah jika bayi bisa menangis untuk mengekspresikan perasannya maka kita akan lebih merasa hampa, ada yang hilang dalam diri ini, atau ada yang lebih ekstrem merasa dunia sudah berakhir.

Hal yang ingin saya permasalahkan disini adalah bukan internetnya, melainkan kita sebagai pengendalinya agar hal ini tidak sampai terjadi. Mulai sekarang, perlahan-perlahan ajak bicara orang yang disamping Anda, keluarga Anda, dengarkan cerita mereka dan saling berbagi saran (bukan orang asing di internet) atau sebaliknya. Batasi penggunaan gawai kita dan yang paling penting saat ada orang mengajak bicara tolong dengan sangat tatap mata mereka dan jangan bersifat cuek sambil menatap layar gawai*kurasa sudah tiga kali aku mengulang ini.

5. Saya benar-benar peduli pada kalian

Terima kasih sudah membaca coretan hati ini, apa yang saya sampaikan hanyalah asumsi pribadi atas kekhawatiran terhadap komunitas sosial kita. Saat kita memutuskan untuk kopi darat, lihatlah masing-masing memegang gawai dan sibuk urusan masing-masing, bukankah itu kehilangan poin utama dari tujuan berkumpul kopi darat tadi ?

Ditambah berdasarkan riset oleh Karen North, Ph.D., seorang ahli komunikasi dan program media sosial di Universitas South California’s Annenberg School untuk bidang jurnalis dan komunikasi berpendapat dengan kebiasaan selalu melihat aktivitas orang lain di media sosial karena terlalu lama berada disana  akan timbul kebiasaan untuk membandingkan diri yang membawa pada tekanan dan depresi, meskipun North bilang untuk bukti komprehensif masih kurang dijadikan sebagai kesimpulan tapi tetap saja ia mengatakan bahwa ini adalah masalah sebenarnya karena ini memang terjadi diseluruh dunia.

Saya merindukan masa-masa dimana berkumpul kopi darat benar-benar berkumpul bukan hanya datang ditempat kemudian masing-masing memegang gawainya dan mulai menjauhkan orang di dekat kita dan mendekatkan orang jauh yang tidak relevan. Jika ini terjadi kadang saya memiliki alasan untuk pergi duluan karena telah kehilangan esensinya.

Apa yang benar-benar ingin saya katakan kepada Anda adalah betapa pentingnya orang – orang nyata disekitar Anda, pergilah keluar, penuhi undangan tetangga, ikut bersosialasi orang sekitar jika ada kegiatan, itu lebih baik karena membantu ada secara langsung untuk kemampuan sosial dan kesehatan mental. Saya juga khawatir dengan opini masyarakat sekarang yang condong ke satu pemahaman saja tanpa melihat sisi lain karena terlalu banyaknya pengaruh-pengaruh di media sosial. Mereka ( para buzzer) berlomba-lomba melakukan tindakan persuasif-persuasif ditambah audince kita yang pasti hanya ingin melihat sesuatu yang sepahaman dengan kita, itulah yang dinamakan algolaritma lock.

“Pesan saya hanya satu, setiap mendengar sesuatu atau apapun jangan jadikan itu kebenaran mutlak tapi jadikan cara pandang lain karena kebenaran selalu relatif”

– an elvish –

Satu pemikiran pada “5 argumen hidup mu dikonsumsi oleh media sosial”

Tinggalkan komentar, argumen, atau saran

%d blogger menyukai ini: