Makna Logical Fallacy Secara Mendalam

Makna logical fallacy tidak sebatas hanya dia yang salah atau kita yang salah, there’s more than that.

Sering orang korban patah hati dari seorang pasangan yang selingkuh langsung berkesimpulan bahwa jenis gender mantannya adalah brengsek. Istilah ini sudah tidak asing, pasti kalian sering mendengar “semua lAkI-LaKi sama saja” atau sebaliknya.

Tindakan tersebut termasuk logical fallacy dalam kategori hasty generalization atau suka generalisir. Logical fallacy sering digunakan untuk metode meyakinkan sesuatu akan “sesuatu”. Bisa untuk meyakinkan orang lain atau diri sendiri.

Dalam kesempatan ini, izinkan saya untuk berterima kasih pada Anda untuk meluangkan waktunya dalam membaca artikel ini. Sankyou

Bismillah

Apa itu logical fallacy?

Makna Logical Fallacy adalah sebuah tindakan berpikir yang didasari tanpa “relevansi” yang akan membawa pada dilemma palsu, asumsi tanpa fakta, dan memberikan kesimpulan yang salah. Logical fallacy bisa juga disebut dengan kesesatan berpikir atau sesat logika.

Setiap hari kita menemukan fallacy berpikir ini dalam kehidupan kita, misalnya pada debat kusir agama, buzzer politik, dan forum internet yang kadang… ah well tidak perlu disebutkan deh, Anda tau sendiri bagaimana isinya. Mulai dari a-z.

Sering kali orang menggunakan logical fallacy secara tidak sadar, saat ia berdebat akan suatu hal atau sekedar ingin beragumen tapi terlalu banyak bumbunya.

Baca juga :

Cara Menemukan Seseorang Menggunakan Logica Fallacy

Sangat penting bisa membedakan lawan bicara kita menggunakan logical fallacy atau tidak apalagi di era informasi tanpa filter. Hal ini akan menjadikan kita orang yang berpikir kritis dan terbiasa pada hal yang valid.

Di musim politik, logical fallacy sering digunakan orang pada debat “calon orang terpilih“. Ini sangat sulit bagi kita yang tidak terbiasa atau bukan ahlinya untuk mengiyakan saja. Kita sering tertipu oleh argumen yang kadang tampak benar diluar tapi sebenarnya tidak ke valid argumen, hanya terlihat diluar saja.

Sang kandidat kadang suka melontarkan pertanyaan/jawaban yang jauh dari topik utama dalam debat, misalnya menyerang pribadi kandidat lain untuk menampikan argumen lawan. Contoh nyata Mr. A berpendapat ke Mr.B bahwa jika ingin memimpin suatu Negara harus dilihat dari bagaimana ia memimpin rumah tangga, jika ia cerai maka tidak kompeten memimpin Negara. Terlihat benar diluar tetapi jika ditelaah hal tersebut tidak ada hubungan relevannya meski secara subtansi sama-sama memimpin.

Ingatlah jika ingin menilai harus menjauhi opini yang condong kesuka atau tidak suka, melainkan sisi netral yang fokus “hanya” pada relevansi dan tujuan asli.

Mungkin tidak cukup hanya dengan 1 contoh, kita lihat dengan yang ada di kehidupan sehari-hari. Jika si Fulan berkomentar pada Fulana tentang ketidaksukaannya pada pemerintah karena korupsi semakin merajalela.Fulana yang harusnya menjawab “pernyataan asli” Fulan dengan berusaha menampilkan balasan valid atau fakta malah menjawab:

“Kalo tidak suka mah itu urusanmu, mending kamu pindah negara aja deh”.

Seorang Fulana yang ad hominem

Alih-alih menjawab secara struktur malah menyerang motif pertanyaan lawan.

Jenis-jenis Logica fallacy

Ada puluhan logica fallacy yang merasuk dalam tatanan masyarakat kita, seperti hasty generalization atau ad hominem diatas tadi. Makna logical fallacy tidak sebatas sesat berpikir saja. Untuk kategori ada informal maupun formal fallacy. Untuk penjelasan formal/informal logica fallacy mungkin lain waktu saat skripsi saya selesai dan bisa fokus menulis. Berikut jenis-jenisnya.

1. Anecdotal

Argumen sesat yang timbul akibat pengalaman pribadi yang mengesampingkan bukti ilmiah. Biasanya untuk kesimpulan yang umum dan seputar perpekstifnya saja.

Sruktur berpikir bisa dilihat seperti ini:

  1. X terjadi sekali saat Y ada disana.
  2. Oleh karena itu, Y selalu ada jika X disana.

contoh gampangnya adalah :

“Susu sapi menyebabkan saya sakit perut, pasti karena susu adalah minuman bayi”

“Covid-19 adalah konsprisasi iluminati untuk mengatur masyarakat dan palsu karena sudah 1 tahun saya tanpa masker ketempat kerumunan tidak pernah kena covid”

“Ayah saya merupakan perokok berat dari remaja dan sekarang ia masih segar bugar, berarti rokok tidak menyebabkan rusak paru-paru bagi semua orang” cosss merokok sampai mati.

Oke disini masalahnya kawan, dengan minum susu kita berpendapat bahwa meminumnya dapat menyebabkan sakit perut. Orang tersebut pasti melupakan bahwa ia mengidap intolerant lactosa dan tidak bisa dikatakan bahwa semua orang pengidap yang sama seperti dirinya.

Untuk masalah covid-19 dan Ayah yang perokok, kalian bisa menyimpulkannya sendiri xD. Ingat kata kuncinya adalah memberikan kesimpulan yang bias.

2. Argumentum Ad Baculum

Argumen yang ditujukan dengan isi ancaman, paksaan, dan intimidasi sebagai suatu pembenaran dalam membuat kesimpulan.

Strukturnya adalah:

  1. Bertindak X menyebabkan tindakan Y terhadap saya.
  2. Saya tidak ingin tindakan Y terjadi pada saya.
  3. Maka X sudah pasti salah.

Y bisa berupa apa saja, mulai dari persekusi, suap hingga intimidasi, selama itu dapat diterima dan terkait penerimaan proposisi.

  1. Jika M menerima O adalah yang benar, maka L….
  2. L adalah hukuman atas x.
  3. Oleh karena itu O pasti tidak benar.

Dilihat sekali lagi L tidak dapat disimpulkan apapun terhadap nilai atas premis dari O.

Ini contohnya:

Anak edgy yang baru menyelam freethinker : “Semua orang yang beragama sesuai dengan ajaran dan berusaha secara “asli” dalam menjalankan agamanya dan mengklaim Tuhannya benar ialah orang yang fanatik dan harus dikucilkan dari kelompok masyarakat”

Lihat dari kesimpulannya, disitu menunjukan konsekuensi yang negatif tanpa menunjukan “kesimpulan secara benar”. Dengan kata lain memaksa orang lain untuk setuju.

Ingatlah, kita tidak bisa berpikir bahwa standar rasionalis seseorang bisa sama dengan kita. Dan jangan pernah mengucilkan/mengancam orang lain dalam argumen untuk membuat kita terlihat benar atau ingin diterima orang lain.

3. False Dichotomy

False dichotomy atau bisa juga disebut false dilemma adalah argumen yang disajikan berdasarkan 2 pilihan, baik atau buruk, hitam atau putih dan akan di klaim cuma satu yang benar dan satunya tidak bisa diterima. Tanpa mempertimbangkan pilihan alternatif lainnya.

Strukturnya bisa dilihat seperti ini:

  1. Kalau bukan A, berarti B.
  2. Kalau B, berarti dia A.

Karena jika kita berpikir dunia ini cuma hitam dan putih, tanpa mempertimbangkan dan membatasi jawaban atau pilihan orang lain itu sangat keliru. Nyatanya yang bukan A tidak terbatas pada B saja, melainkan bisa C,D,E, dan seterusnya.

Contoh nyata :

  1. “Orang yang menolak paham kiri, berarti dia orang kapitalis”
  2. “Kita tidak bisa menjadi orang yang berpikiran terbuka dengan percaya pada sains sekaligus religius disaat yang sama. Karena jika percaya pada agama, itu akan menolak klaim sains yang ada”

Penjelasan untuk sains vs agama untuk contoh nomor dua :

Argumen tersebut menimbulkan dilemma yang salah karena memaksa sains dan agama tidak bisa sejalan, meskipun klaim agama dan sains kadang bertentangan seperti umur bumi. Padahal ada banyak sains dan agama yang sejalan satu sama lain misalnya pembentukan janin dalam Alqur’an. Ingatlah segala sesuatu tidak harus ekslusif satu sama lain.

4. Bandwagon

Bandwagon muncul ketika nilai suatu kebenaran dipegang oleh orang yang banyak. Sesat berpikir dalam membenarkan sesuatu karena melihat orang banyak juga melakukannya, dengan kata lain cuma ikut-ikutan(padahal mah gak tau urusannya apa).

Contoh simple nya gini :

A : ” Eh kenapa kamu suka hina FF? perasaan main game aja jarang?”

B : ” Ya habisnya game nya ga ada pintu, jadi ya jelek lah pasti gamenya”. “Terus asik aja gitu ngina player FF”

A : ” Ya ga bisa gitu dong, dicoba aja belum, terus apa coba hubungannya sama ga ada pintu?”

Contoh yang lebih serius :

” Teori bumi datar makin banyak yang suka nih, bahkan sebagian influencer juga ada yang percaya. Itulah kenapa aku juga percaya bahwa bumi itu datar”

Dude, come on. Seriously ?

Argumen diatas yang bumi datar, orang tersebut percaya begitu saja pada teori bumi datar karena orang lain juga banyak yang percaya atau percaya pada popularitas orang banyak. Yang jadi masalah bukan pada teorinya, melainkan cara menarik kesimpulan itu terjadi. Memang bisa saja konspirasi bumi datar terjadi tapi untuk membuktikannya harus ada data yang valid untuk membuat kesimpulan, bukan pada orang banyak.

5. Strawman

Strawman muncul ketika mencoba membantah argumen orang lain dengan reprentasi yang yang berbeda. Taktik cacat logika ini digunakan untuk membuat posisi kita lebih kuat dengan mengkritik posisi yang tidak dipunyai orang lain.

Poin utama pada argumen strawman bisa seperti :

  • Berfokus pada satu aspek argumen
  • Balasan argumen yang selalu dilebih-lebihkan atau disederhanakan
  • Yang paling penting, membuat klaim yang tidak dikatakan orang lain

Contohnya gini nih :

“Bro, kok kamu kemana-mana kuliat pake masker mulu? Takut sama pemerintah ya”

Lah sini saya jelasin, si Bro memakai masker bukan karena takut sama denda dan duit hilang . Kan si Bro memakai masker agar tidak tertular virus yang disebarkan oleh mulut dan liur muncrat saat bicara.

Contoh yang agak serius nih :

Anak edgy : “Agama itu menolak bukti ilmiah dan sains. Jadi jika Anda orang beragama, maka situ harus menolak segala bukti ilmiah yang ada”.

Gini kawan, argumen strawman diatas terlihat sekali. Seolah-olah agama selalu digambarkan kaku dimana-mana. Menjadi orang tipe religius tidak harus menolak sains, argumen ini juga mirip seperti false dichtomy diatas, yang membatasi jika ingin terlihat sains maka harus menolak agama. No big mistake pals.

Untuk penjelasan seperti ad hominem, over generalization, burden on proof, Slippery slope, cherry picking, dan lainnya akan disambung pada judul yang berbeda.

KESIMPULAN

Saya harap tulisan ini dapat membantu kita semua dalam menyelesaikan perbedaan pandangan kita dengan teman, keluarga, atau yah teman dunia maya yang kadang suka debat online yang tidak habis-habisnya. Muncul sumpah serapah, terus panggilan kebun binatang sudah tak tertahankan.

Selain digunakan dalam debat online, analisa logical fallacy juga penting untuk diketahui dalam penelitian, khususnya bagi mahasiswa yang belajar agar tidak sembarangan dalam memilih sumber.

Terima kasih

Tinggalkan komentar, argumen, atau saran

%d blogger menyukai ini: