Phubbing, perusak hubungan nomor wahid

Siapa disini yang kira-kira mempunyai kebiasaan selalu cepat tanggap dengan ponsel pintarnya jika ada nada notifikasi berbunyi ? Well, sebenarnya itu sangat bagus karena membuktikan kita orang yang berempati tinggi pada orang lain. Hanya saja….. Hanya saja penempatan itu kadang salah orang di tempat yang salah dan di waktu yang salah.

Sebelum mengetahui kenapa Phubbing itu salah, ada baiknya untuk mengetahui apa sih phubbing itu yang mudah dimengerti dalam Bahasa Indonesia.

Phubbing menurut wikipedia diambil dari kata phone(telepon) dan snubbing(mengabaikan) yang dipopulerkan oleh McCann. Arti kasar dari phubbing ini menurut asumsi pribadi saya adalah “Aku tidak peduli dengan Anda maupun percakapan kita, apa yang ada di HP aing ini lebih penting isinya” Jika itu terlalu kasar mungkin arti lainnya ialah sikap cuek. Phubbing sendiri dilakukan ketika seseorang yang lebih memilih menatap ponsel “pintar” (ingin bilang dumb people) daripada orang lain disamping atau didepannya yang ingin mengajak bicara atau sudah dalam tahap percakapan(ini sih sudah parah)

Kenapa saya bilang tindakan yang sebagian besar orang pasti lakukan bahkan kadang saya sendiri ini menuju pada sikap phubbing salah karena adanya dampak yang ditimbulkan secara psikologis dan jauh dari etika seorang gentleman(jangan sebut saya sexist ini berlaku secara universal). Pikirkanlah dari sisi lawan bicara atau orang yang disamping anda, mereka merasa terabaikan dan tidak dihargainya seandainya orang yang didepan kita ini orang yang sensitif atau kritis saat melakukan tindakan phubbing. Hal pertama yang saya lakukan ketika tidak sadar melakukan phubbing ialah langsung meminta maaf dan segera menaruhnya dikantong, serius.

Tindakan phubbing ini seperti tidak bisa mempriotaskan seseorang yang penting dan tidak bisa melihat tempat, bayangkan pelakunya lebih memilih “benda mati ponsel pintar” serta hal fana dari dunia virtual yang sebenarnya bisa dilakukan lain waktu daripada mengajak atau sekedar memerhatikan seseorang yang nyata yang sudah jelas ada dihadapannya. Reaksi orang yang diajak pun bisa berkurang dan kehilangan minatnya untuk melanjutkan pembicaraan karena sama saja seperti memberi sinyal padanya dan berkata “kau tidak layak dengan waktuku, sekarang pergilah! shooooooooooooo” OMG, sekasar itukah kita?

Jika ada yang ingin bilang kenapa ini harus dipermasalahkan berarti yang menanyakan ini tidak mengetahui sifat alamiah manusia. Setiap manusia mempunyai sifat dasar tertanam dalam dirinya yang tidak suka penolakan, tidak ingin diabaikan, memiliki harga diri, dan keberadaannya ingin benar-benar “ada” dan berarti. Dengan menjaga perasaan orang yang disamping anda ini “ada”, berarti kita sudah berpartipasi dalam menjaga kemanusiaan kita yang telah puluhan ribu tahun ini berevolusi yang kemudian dilanjutkan kembali oleh generasi mendatang dan tidak serta merta hancur akibat 1 benda mati yang bernama ponsel pintar yang baru muncul beberapa tahun saja.

Kita lihat dari sisi romantika seorang kekasih sedang mengadu kasih yang harusnya berbagi kasih malah timbul tanpa kasih. Kenapa demikian ? Jika saat bertemu salah satu dari pasangan tersebut misalnya dating mingguan ada yang selalu menatap layar gawainya untuk ngepush rank(hei kalian bisa melakukannya nanti) misalnya. Sikap phubbing tersebut benar-benar mengganggu bagi pasangannya karena sikap tersebut istilahnya menimbulkan kecurigaan dan tidak adanya “koneksi” malah bisa memburuk karena fokus yang selalu teralihkan itu.

Saya mengerti disini sebagian orang ingin pasangannya seorang gamer, but believe me it’s a f***** nightmare, mimpi tersebut hanya diinginkan seseorang dari kemaren sore yang terlalu banyak menonton youtube dan tidak bisa melihat realitas.

Dari sisi penghargaan diri sendiri, phubbing ini membuat hidup kita kehilangan esensi dan kenikmatan yang dilalui. Saat membaca tulisan ini misalnya kebiasaan Anda makan pasti selalu membuka dan memainkan ponsel pintar, kira-kira makanan yang Anda makan itu masih terasa nikmat atau tidak? Kemudian lakukan kebiasaan yang bertolak belakang selama seminggu(kalau tidak bisa satu hari tapi mungkin belum terasa) dengan menaruh ponsel tersebut jauh-jauh dan hanya fokus kepada makanan yang disantap. Bandingkan perbuatan ini dan kira-kira hal pertama apa yang dirasakan melakukan sesuatu tanpa dialihkan oleh ponsel pintar tersebut.

Asumsi Pribadi saya menilai dalam phubbing ini kejadiannya akibat lingkaran setan. Korban pelaku dari phubbing ini disebut phubber, seorang phubber biasanya kembali melakukan phubbing jika ia merasa diabaikan dari lawan bicara . Dari melakukan hal tidak penting misalnya dengan sebatas scrolling menu atau membaca surel yang berumur 1 bulan lebih untuk tetap membuat dirinya terlihat tetap sibuk. Ingat sifat alamiah manusia sudah sewajarnya memiliki harga diri dan tidak suka diabaikan. Akibat sifat kita yang kadang tidak sadar dilakukan tersebut dapat membuat seseorang terjatuh pada perputaran lingkaran setan tanpa akhir ini.

Saya teringat pepatah yang diucapkan oleh Squidward(mungkin?) ironi yang menimbulkan ironi, mungkin itulah yang tepat menggambarkan keadaan masyarkat sekarang. Dari ponsel pintar yang tujuan awalnya untuk membuat koneksi, kenyataan dilapangan malah menjauhkan “koneksi”. Untuk itulah setidaknya kita menjadi sadar atas sikap kita yang kadang tidak terlalu diperhatikan ini dapat melukai perasaan orang lain(meski ia tidak bilang begitu coba tanyakan dan konfirmasi) dan menunjukan kita seorang kepribadian yang kasar karena lebih menghargai teknologi bukan manusia asli yang punya perasaan(serius orang-orang dalam internet untuk melakukan “koneksi” bisa dilakukan kapan saja bukan saat ada orang di depan kita)

5 pemikiran pada “Phubbing, perusak hubungan nomor wahid”

  1. Jujur saya belum pernah mendengar istilah ini, mungkin kalo kata2 ini sudah lumrah digunakan di indonesia, setidaknya saya bisa mengangkat isu “maen hape tross” di lingkungan pertemanan saya😁

    Balas
    • Coba share tulisan ini ke lingkaran teman2 Anda biar semakin banyak yang aware masalah “maen hape tross” ini biar pertemuannya lebih berarti pas nongkrong😁

      Balas
  2. Menarik sekali bahasannya kak. Saya juga berusaha agar tidak phubbing.
    Namun fenomena yang terjadi terkadang lawan bicara saya yang phubbing. Ketika saya tau orang yang saya ajak bicara sedang fokus dengan handphonenya, saya coba memberikan sedikit kelonggaran dengan sok sibuk juga dengan handphone saya, walau sebenarnya tidak ada apa-apa. Hal ini membuat saya seakan-akan phubbing, padahal yang saya lakukan adalah mencoba mengerti dan memberikan rasa nyaman ke lawan bicara saya. Saya tidak tau apa yang dia lakukan dengan handphonenya, mungkin dia sedang membalas pesan penting. Jadi saya coba beradaptasi dengan ritme phubbing lawan bicara saya.
    Bagaimana menurut kaka ? Apakah tindakan sok phubbing dapat dibenarkan ?

    Balas
    • Terima kasih sudah bertanya. Seperti yang saya bilang di paragraf ke 6 itu adalah sifat alamiah manusia.

      Apakah itu salah? Tentu saja tidak, tindakan tersebut merupakan kategori defensive personality yang mana merupakan hal lumrah untuk menjaga eksitensi kita dihadapan manusia lain.

      Apakah dapat dibenarkan? Kembali ke diri masing-masing, memang itu adalah hal yang paling logis untuk melawan tindakan lawan bicara yang bersikap phubbing atas adaptasi menjaga perasaan kita.

      Saran saya coba berikan literasi tentang phubbing dan berjanji sebelum bertemu setidaknya bebas dari HP selama 1 jam untuk bisa menemukan topik pembicaraan yang tepat untuk dibicarakan sehingga esensi saat bertemu teman tidak kehilangan tujuan.

      Balas

Tinggalkan komentar, argumen, atau saran

%d blogger menyukai ini: