Phubbing, perusak hubungan nomor wahid

Terima kasih sudah membaca tulisan ini sampai selesai, artikel ini dibuat sebagai unek-unek terhadap orang-orang terdekat penulis agar lebih menghargai kehidupan bukan berpatok teknologi yang mengurangi kedekatan dan empati seseorang.

5 pemikiran pada “Phubbing, perusak hubungan nomor wahid”

  1. Jujur saya belum pernah mendengar istilah ini, mungkin kalo kata2 ini sudah lumrah digunakan di indonesia, setidaknya saya bisa mengangkat isu “maen hape tross” di lingkungan pertemanan saya😁

    Balas
    • Coba share tulisan ini ke lingkaran teman2 Anda biar semakin banyak yang aware masalah “maen hape tross” ini biar pertemuannya lebih berarti pas nongkrong😁

      Balas
  2. Menarik sekali bahasannya kak. Saya juga berusaha agar tidak phubbing.
    Namun fenomena yang terjadi terkadang lawan bicara saya yang phubbing. Ketika saya tau orang yang saya ajak bicara sedang fokus dengan handphonenya, saya coba memberikan sedikit kelonggaran dengan sok sibuk juga dengan handphone saya, walau sebenarnya tidak ada apa-apa. Hal ini membuat saya seakan-akan phubbing, padahal yang saya lakukan adalah mencoba mengerti dan memberikan rasa nyaman ke lawan bicara saya. Saya tidak tau apa yang dia lakukan dengan handphonenya, mungkin dia sedang membalas pesan penting. Jadi saya coba beradaptasi dengan ritme phubbing lawan bicara saya.
    Bagaimana menurut kaka ? Apakah tindakan sok phubbing dapat dibenarkan ?

    Balas
    • Terima kasih sudah bertanya. Seperti yang saya bilang di paragraf ke 6 itu adalah sifat alamiah manusia.

      Apakah itu salah? Tentu saja tidak, tindakan tersebut merupakan kategori defensive personality yang mana merupakan hal lumrah untuk menjaga eksitensi kita dihadapan manusia lain.

      Apakah dapat dibenarkan? Kembali ke diri masing-masing, memang itu adalah hal yang paling logis untuk melawan tindakan lawan bicara yang bersikap phubbing atas adaptasi menjaga perasaan kita.

      Saran saya coba berikan literasi tentang phubbing dan berjanji sebelum bertemu setidaknya bebas dari HP selama 1 jam untuk bisa menemukan topik pembicaraan yang tepat untuk dibicarakan sehingga esensi saat bertemu teman tidak kehilangan tujuan.

      Balas

Tinggalkan komentar, argumen, atau saran

%d blogger menyukai ini: