Privasi, terlupakan atau dilupakan?

Pembatas sudah hilang, dua dunia sudah tak bisa dibedakan, quantum fisik atau fana digital, realitas atau nonrealitas. Privasi pada era informasi layaknya lebah yang ingin menyengat seseorang, jika menyengat maka sudah pastilah terluka atau yang lebih buruk kematian akan menimpa si lebah.

Terluka dalam artian bisa merugikan diri sendiri jika ia sembarangan dan tidak hati-hati. Akibat dari kemajuan teknologi sekarang, informasi pribadi dapat mudah disimpan, diakses, dan disebarluaskan pada pihak lain atau sebut saja “agen” tanpa izin dari pihak yang bersangkutan dengan dalih “Kau sudah memakai layanan kami, dengan memakai berarti setuju aturan ini”

Hal yang disayangkan adalah, kebanyakan dari kita bahkan tidak membaca persyaratan layanan yang diajukan. Memangnya siapa coba yang ingin membaca ratusan halaman panjang berbahasa Inggris? Seperti ada kesengajaan disini yang memainkan kondisi kemalasan dan ketidaktahuan kita agar bersikap ceroboh dan langsung saja yes.

Knowledge is power, dengan motto itu seorang visioner dalam dunia bisnis menjadikan kita(orang yang privasinya sudah dilanggar) sebagai produk dari orang yang memiliki askes dalam database yang dikomersilkan lagi untuk dijual pada agen pengiklan.

Dengan cara itu, kita kadang merasa selalu diikuti iklan kemanapun pergi. Misalnya, seorang yang baru mengetik kesukaanya seperti tas branded pada pencarian sebut saja G-word dan tadaa ke website apapun, media sosial apapun, atau Y-word akan selalu muncul iklan tersebut.

Memang kadang pihak sana beragumentasi ingin menampilkan iklan yang relevan, tapi pertanyaannya benarkah sebatas informasi seperti nama dan kesukaan saja yang diambil? Perumpamaannya adalah, jika saya bisa mengakses informasi pribadi hasil perjanjian sepihak misal seperti ToS mengapa harus berhenti sebatas di informasi umum saja? Kenapa tidak lebih lagi ke hal yang Anda sembunyikan selama ini dari hasil cache browser?

Ouch sangat sulit ingin menyampaikan intinya, maksudnya adalah jika seseorang memiliki kendali akses untuk memilih “ada batasan”, secara tidak langsung maka ia juga mengakui bisa melakukan hal yang berusaha ia “batasi” tersebut.

Banyak yang tidak menyadari

Hal yang terlupakan jika kita membiarkan minat dan kesukaan dibiarkan begitu saja sebagai produk dari timbal balik “layanan gratis” itu kadang kembali menyerang diri sendiri. Bagaimana tidak? Mungkin kalian yang belum mengetahui cerita dari negara Asing tentang pelanggaran privasi gadis remaja yang seharusnya hanya untuk dirinya sendiri.

Hitung saja seperti kebiasaan, orientasi seksual, pandangan seseorang dan kemudian dijual pada agen pengiklan karena iklan yang sudah ditargetkan meningkatkan persentase keberhasilan. Istilah ini disebut dengan targeted selling yang dikirimkan langsung bisa melalui e-mail(surel) dan personalisasi iklan yang biasanya ada di pengaturan G-word.

Dengan cara itu, mungkin masih ada yang berpikir itu adalah hal lazim untuk mendapatkan uang dari kita karena timbal balik tadi. Tapi disinilah menariknya, seperti yang saya bilang sebelumnya jika ada “pembatasan” berarti secara tidak langsung mereka mengakui melacak semua tindakan kita di internet untuk keperluan iklan.

Dengan apa ? dengan menyimpan semua aktivitas kita berselencar di internet dan kemudian memonitor tindakan atas permintaan “agen” tadi. Misalnya seorang Fulan baru saja menyukai halaman di salah satu media sosial. Sebut saja halaman makanan hijau, dari tindakan Fulan menyukai makanan hijau maka tidak begitu lama muncul iklan ke hal yang terkait dengan makanan hijau. Sekali Fulan terpikat pada iklan tersebut, dan ia memakannya maka booom si Fulan selalu di banjiri iklan ke hal yang terkait terus menerus.

Hal ini berlaku untuk orang yang suka propoganda berita politik, sebut saja Fulan menyukai Cebong dan Fulana menyukai Kadrun. Kedua orang tersebut suka berselancar sesuai dengan pandangan “mereka” saja, ketika bertemu sudah jelas masing-masing mempertahankan argumen hasil propoganda. Keduanya saling berpikir satu sama lain adalah ignorant, fo*l, tidak open minded(hayu siapa yang suka bilang gini? situ merasa intelek dan berasa open minded sendiri?).

Yang jadi permasalahan diatas adalah G-word, Y-word, big 3 F-word hanya suka menampilkan iklan hasil perpekstif kita saja. Dengan begitu coba bayangkan, mereka menyumbang kisruh segala permasalahan yang ada. Menjadikan seseorang terjerumus oleh satu pemikiran dan kemudian kita dibutakan oleh satu pandangan dan tiap hari dicecoki propoganda.

Jika kita acuh

Tulisan ada dibawah jangan berhenti scrolling saat membaca dan melihat bahasa asing.

“Arguing that you don’t care about the right to privacy because you have nothing to hide, is no different than saying you don’t care about free speech because you have nothing to say.”

“Privacy is the fountainhead of all other rights. Freedom of speech doesn’t have a lot of meaning if you can’t have a quiet space. A space within yourself, within your mind, within the community of your friends, within your home, to decide what it is you actually want to say.”

Edward Snowden

Seperti yang dibilang oleh om Snowden, jika kita tidak peduli dengan privasi karena alasannya tidak ada yang disembunyikan itu sama saja seperti kita tidak peduli dengan freedom of speech karena memang isi otak kita ini tidak ada hal yang ingin diucapkan dengan artian kosong. Itu sama saja dengan bodoh dan tidak menghargai diri kita di masa depan.

Banyak teman-teman penulis yang tidak peduli akan hal ini, mulai dengan alasan klasik seperti “Biarkan G-word tahu kebiasaan aing, lagi pula yang kulakukan cuma browsing situs pemersatu bangsa(keterlaluan jika tidak paham)”. Sebenarnya ada yang keliru dari pernyataan tersebut, mungkin saja untuk saat ini tidak tapi siapa tau untuk diri Anda di masa depan?

Masalahnya bukan pada sekarang tapi saat nanti. Saat Anda sudah sadar, saat tua, saat sudah menjadi “orang”. Bisa saja menjadi pejabat penting, pengacara, pemuka agama, dan hal penting lainnya. Ketika Anda tidak memperdulikan kredibilitas dan integritas di masa sekarang, berarti Anda sedang tidak menghargai diri Anda di masa depan.

Saya menjadi teringat dengan kuliah dari dosen saya(terima kasih Ibu Ayu) yang hampir 2 tahun silam. Beliau bilang ada kasus kejahatan terjadi, dimana para pencuri yang memanfaatkan hasil ketedoleran korban(suka exhibit kegiatan). Sang korban ini kemanapun dan apapun yang dilakukan selalu update status ke media sosial, hal itu menjadi konsumsi publik dan dimanfaatkan oleh pencuri untuk mengetahui jam kosong rumah korban, bagaimana saja letak rumah korban, berapa jumlah penghuni rumah korban, dan entahlah saya tidak ingat lagi detailnya.

Masih dalam cerita pencurian tadi, sang pencuri dengan mudahnya mengetahui kebiasaan korban dan ini memberi kesempatan bagi pencuri tadi. Mudah saja dengan pola yang sudah dipelajari, si pencuri bakal memprediksikan hal apa saja yang harus ia lakukan saat beraksi untuk mengurangi kegagalan. Oke cerita berakhir.

Kesimpulan

Privasi di era sekarang tidak terlupakan maupun dilupakan tetapi lebih kepada ketidaktahuan seseorang akan “value” pada dirinya. Akibat dari kurangnya kampanye privasi serta hak lainnya sehingga sering kita dijadikan produk gratis dan dibiarkan setuju saja.

Hal ini ditambahkan oleh definisi dari privasi sendiri yang berbeda-beda dari setiap individu tergantung sisi mana ia menilai sesuai dengan yang telah dikemukakan oleh Priscilla M. Regan.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu ingat”.

Q.S An Nuur:27

Tinggalkan komentar, argumen, atau saran

%d blogger menyukai ini: